Bab 1: Musim dingin, perasaan dingin
TLN: Judul bab ini adalah teks bahasa Inggrisnya. Bhs Jepang, yang sebenarnya diterjemahkan menjadi: "Musim bunga sakura dan suhu linoleum."
Aku menginformasikan ke meja resepsionis mengenai urusan ku kesini dan dengan cepat diberitahu ke kamar mana.
Berpikir tentang bagaimana aku akan segera bertemu orang yang sama sekali asing bagiku, akumerasa sangat gugup. Belum lagi fakta bahwa orang ini adalah seorang gadis yang telah dirawat di rumah sakit karena sakit.
Aku sedikit gelisah ketika aku menunggu lift disini.
"Kudengar dia sangat cantik," seseorang memberitahuku.
Ternyata, namanya adalah Watarase Mamizu.
Saat wali kelas di tahun pertamaku di sekolah menengah atas, Yoshie-sensei, guru wali kelas kami, berbicara dengan suara terengah-engah.
“Watarase Mamizu-san telah dirawat di rumah sakit sejak sekolah menengah karena penyakit yang serius,” katanya.
"Saya harap dia akan dipulangkan segeramungkin dan menikmati kehidupan sekolahnya dengan semua orang."
Ada satu kursi kosong di kelas.Sekolah kami adalah SMA gabungan swasta dan sekolah menengah atas, sehingga para siswa disini tidak benar-benar berubah dari SmP. Meski begitu, sepertinya hampir tidak ada yang tahu Watarase Mamizu.
"Aku mendengar bahwa itu adalah penyakit luminesensi"
"Kalau begitu dia mungkin tidak akan bisa bersekolah, ya."
"Siapa dia?"
"Ternyata dia belum pernah masuk sekolah sejak bulan Mei tahun lalu ."
"Tidak ada yang punya potonya,di HP kalian?"
Orang-orang di kelas mulai bergosip sedikit tentang dia, tapi tidak ada informasi penting tentangnya, sehingga dengan cepat gosip itu terhenti.
Jika itu penyakit luminesensi, akan sulit baginya untuk kembali ke sekolah. Itu dikenal sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Penyebabnya tidak diketahui. Metode pengobatan bahkan belum ditetapkan.
Penyembuhan total tidak mungkin dilakukan. Itulah sebabnya kebanyakan orang dengan kondisi tersebut akan menghabiskan seluruh hidup mereka di rumah sakit. Penyakit ini berkembang ketika pasien tumbuh dewasa, dan gejalanya muncul secara tiba-tiba pada suatu hari. Dikatakan bahwa kebanyakan pasien mengalami gejala di usia remaja atau di usia dua puluhan. Begitu gejala muncul, angka kematiannya meningkat: kebanyakan pasien meninggal sebelum menjadi dewasa. Ada banyak gejala yang berbeda, tetapi yang khas adalah fenomena aneh di kulit yang bersinar
Dikatakan bahwa pada malam hari, ketika cahaya bulan menyinari tubuh orang tersebut, kulit nya akan memancarkan cahaya samar dan redup. Ternyata, cahaya yang dipancarkan menjadi lebih kuat saat kondisi sedang kambuh. Itu sebabnya disebut penyakit luminesensi.
... Bagaimanapun, tidak mungkin gadis yang bernama Watarase Mamizu ini bisa masuk sekolah, pikirku, dan memutuskan untuk segera melupakan semua itu.
Beberapa hari setelah itu, waktu istirahat, apa yang tampak seperti selembar kertas berwarna yang sangat besar dibagikan ke padaku.
“Okada, tulis sesuatu di sini,” kata orang yang memberikannya kepadaku.
"Apa ini?" Tanyaku.
“Kamu tahu, siapa yah? Sesuatu-san, yang dengan penyakit luminesensi .Semua orang harus menandatangani itu dan kemudian akan diberikan kepadanya. "
Tidak tertarik , aku menjalankan penaku di kertas berwarna.
<'aku harap penyakitmu membaik'> Okada Takuya.
Aku menulis kata-kata ini dengan lancar dalam waktu tiga detik dan kemudian melihat berkeliling untuk memberikan kertas ini kepada orang berikutnya.
"Wow, Okada, itu sangat tidak jelas."
"Siapa berikutnya?"
“Semua orang di sekitar sini sudah. Ah, Kayama belum, kurasa. Pergi dan berikan padanya. kau dan Kayama akrab, bukan? "
“Kami tidak benar-benar akrab” jawabku sebelum mendekati kursi Kayama.
Kayama Akira berantakan seperti biasanya. Baju seragamnya keluar dari celananya, dan dia merosot ke depan di kursinya, tidur seperti balok kayu. Dia tinggi, dan rambutnya panjang. Dia tidak mengeluarkan aura seorang berandalan. Dia tidak memiliki kecenderungan terhadap kekerasan, tapi dia bisa digambarkan tepat sebagai "pemalas." Dia masih populer diantara para gadis-gadis karena dia memiliki wajah yang bagus, tetapi biasanya dia menanggapi orang-orang dengan arogan, sehingga sebagian besar dari mereka sedikit menghindarinya
"Kayama, bangun," kataku.
" berpikir bahwa aku akan dipilih sebagai manajer asrama wanita yang penuh dengan wanita cantik ..."
Kayama sedang ngelindur. Rupanya, dia mendapat kan mimpi yang bagus. Terus-menerus, aku mengguncangnya, mengembalikannya ke kenyataan.
"Hah? Okada? Apa itu? ”Tanyanya.
Jika punya pilihan ,Aku tidak benar-benar ingin mendekatinya .Tapi itu bukan karena ada hubungannya denganku karena tidak mampu menghadapi kepribadiannya yang tidak teratur.
Dulu, Kayama melakukan sesuatu seperti bantuanku. Itu sebabnya tidak benar mengatakan bahwa kami adalah teman.
Kata "penyelamat" tepat untuk menggambarkan Kayama
Ada sesuatu yang aneh dengan ku ketika berinteraksi dengan Kayama - aku merasa gugup di suatu tempat di dalam diriku, bahkan ketika cuma mengobrol dengan nya.
"Ini surat gabungan," kataku.
"Kau tahu, buat seseorang yang sakit luminesensi."
"Ah." Kayama mengambil kertasnya, dan menatapnya dengan tatapan kosong.
"Watarase Mamizu, ya."
Sesuatu tentang nada dan ungkapannya sepertinya dia sedang mengingat sesuatu di masa lalu.
"Apa kau mengenalnya?" Aku bertanya kepadanya, terkejut.
"Tidak ... Dulu, sedikit. Jadi, namanya Watarase sekarang, ”kata Kayama linglung, seolah berbicara sendiri.
"Baiklah, aku akan menandatanganinya."
Setelah diberitahu ini, aku kembali ke tempat dudukku.
"Okada, bagaimana akhir-akhir ini?" Tanya Kayama dari bahunya.
"Bagaimana ?"
"Apa kamu baik baik saja?"
"Aku baik-baik saja," jawabku, menekan kekesalanku.
"Kamu sudah menderita dari waktu ke waktu," kata Kayama dengan nada yang terdengar seolah dia telah melihatku.
"Aku tidak apa apa," kataku. Itu bukan urusanmu, pikirku, tapi aku tidak mengatakannya dengan keras.
“Surat bersama yang ditandatangani setiap orang baruselesai, jadi saya berpikir untuk meminta seseorang membawanya pada hari berikutnya. Saya yakin Watarase-san akan jauh lebih bahagia jika seorang siswa yang memberikan nya daripada saya. Apa ada yang mau ? "Tanya Yoshie-sensei.
Yoshie-sensei adalah wanita yang cukup cantik di usia awal dua puluhan, tapi mungkin karena dia belum lama menjadi guru, cara dia mengerjakan tugasnya sebagai wali kelas masih agak kaku.
Bahkan setelah diberi tahu semua ini, tidak ada yang mau melakukannya berpikir selain, “Sungguh menyebalkan.” Tidak ada yang mengangkat tangan. Semua orang mengharapkan ini. Dengan itu Yoshie-sensei akan segera menunjuk seseorang untuk tugas ini. Semua orang menutupi wajah mereka, bahkan tidak berusaha menyembunyikan fakta bahwa mereka berharap tidak dipilih.
Dan kemudian, tiba-tiba, Kayama mengangkat tangannya. Semua orang terkejut dan berbalik ke arahnya secara bersamaan.
"Aku akan melakukan nya," katanya.
"Ah, kalau begitu, maafkan tentang ini, tapi saya rasa saya bisa menyerahkannya padamu," kata Yoshie-sensei.
Pada saat itu, ada sedikit sesuatu yang misterius pada ekspresi Kayama. Ada sesuatu yang menyerupai keberanian yang dipaksakan. Sulit membayangkan bahwa dia senang menjadi sukarelawan.
Jika dia sangat tidak menyukainya, seharusnya dia tidak mengatakan apapun. Mengapa Kayama mengatakan bahwa dia akan melakukan nya? Kupikir, sedikit penasaran.
Akhir pekan datang, pas hari Minggu, Kayama tiba-tiba menelepon dan memintaku untuk menemuinya.
"Aku pengen minta tolong," katanya.
Kami tidak cukup akrab untuk membuat sebuah pertemuan satu sama lain pada hari-hari libur ,jadi ini bisa dianggap sebagai acara yang tidak biasa.
Ini menyusahkan, tapi aku menuju ke rumahnya seperti yang sudah di sepakati.
"Aku kedinginan ," kata Kayama, yang datang ke pintu depan dengan mengenakan piyama, mengenakan masker bedah.
"Aku agak demam, kau mengerti."
Tapi dia tidak terlihat demam sama sekali. Seolah-olah dia menunjukkan padaku cosplay orang sakit.
"Jadi, ada apa?" Tanyaku, sedikit kesal.
"Ah, jadi ... aku tidak bisa pergi mengunjungi Watarase Mamizu," kata Kayama.
“Dan kamu memintaku untuk datang ke tempatmu?” Aku bertanya, mengkonfirmasi situasinya.
"Ya," jawab Kayama singkat.
Dia pulang, dan setelah beberapa saat, dia kembali dengan satu set lengkap cetakan dan barang barang lain yang perlu diberikan kepada Watarase-san.
"Aku akan menyerahkannya padamu," katanya sambil mendorong mereka ke arahku.
Seakan menolak pembicaraan lebih lanjut, Kayama langsung masuk ke rumahnya.
Jujur saja, aku tidak bisa percaya dengan semua ini.
Maka, di hari Minggu, aku dipaksa mengunjungi seorang gadis yang tidak aku kenal.
Rumah sakit yang ditempati Watarase Mamizu berada di stasiun kereta terakhir. Setelah diguncang sekitar tiga puluh menit di dalam kereta yang melintas berlawanan arah dari yang biasanya aku lewati ke sekolah, akhirnya sampai di stasiun yang merupakan tujuanku.
Aku berangkat dari stasiun ke rumah sakit, dan kemudian menuju lantai empat lewat lift seperti yang aku katakan di meja resepsionis. Aku berjalan di koridor yang tertutup linoleum* dan sampai di sebuah pintu kamar rumah sakit.
*Linoleum adalah bahan pelapis lantai yang terbuat dari minyak biji flax (linseed oil) dicampur dengan tepung kayu atau serbuk gabus dengan backing dari kain berserat kuat atau kanvas. .
Aku masuk dan menemukan ruangan bersama(shared room). Para pasien semuanya perempuan; selain dua wanita tua, ada seorang gadis muda yang sedang membaca buku. Dia mungkin Watarase Mamizu. Aku perlahan mendekatinya. Seolah menyadari kehadiranku, dia mengalihkan pandangannya dari bukunya dan mendongak.
Aku kaget dengan tatapan sekilas itu.
Dia memang gadis yang cantik.
Dia cantik, tapi aku tidak bisa memikirkan ada orang yang mirip dengannya.mata hitamnya memiliki tatapan yang tajam, yang dibatasi oleh bulu mata panjang yang alami dan dua kelopak mata yang elegan, membuatnya terlihat lebih mengesankan. Dan kulitnya yang luar biasa putih.
Mungkin karena kulit ini, yang tampak seolah-olah tak pernah tersentuh sinar matahari sama sekali, suasana di sekelilingnya benar-benar berbeda dari gadis-gadis lain di kelas kami. Seolah-olah dia dilahirkan dan dibesarkan di negara lain.
Sebuah jembatan hidung* yang indah, pipi yang indah, dan bibirnya yang kecil, saling berlari satu sama lain. di tambah biasanya yang ramping ,sosok yang idea. Rambut berkilau yang jatuh di dadanya.
*Jembatan hidung [nose-brigde] -https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nasal_bridge
Tidak ada yang bisa membohongi ekspresinya; dia tampak sangat hidup
"Watarase-san?" Aku memanggilnya dengan malu-malu.
"Benar," katanya. "Dan kamu?"
"Okada Takuya. Mulai musim semi ini, aku teman sekelasmu, "kataku,
memperkenalkan diri secara singkat.
"Aku mengerti. Senang bertemu denganmu, aku Watarase Mamizu.bicaralah, Takuya-kun, aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu, ”katanya, tiba-tiba memanggilku dengan namaku.
“Aku ingin kamu memanggilku Mamizu.”
Aku tidak biasa memanggil orang dengan nama depan mereka, jadi aku menganggap permintannya aneh.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena nama keluarga adalah sesuatu yang bisa dengan cepat berubah," katanya.
Apakah orang tuanya bercerai? Tapi aku ragu untuk tiba-tiba menyentuh topik ini.
"Kalau begitu kurasa aku akan memanggilmu Mamizu."
"Terima kasih. aku suka dipanggil dengan nama asliku, ”katanya sambil tersenyum malu. Saat dia melakukannya, gigi putihnya terlihat seolah mengintip dari mulutnya.
aku sedikit terkejut melihat betapa putihnya mereka. Cara dia mengucapkan kata "suka" entah bagaimana terasa bersahabat.
“Jadi, Takuya-kun, kenapa kamu datang kesini hari ini?”
"Ah. sebenarnya, aku punya beberapa cetakan/catatan pelajaran dan lainnya untukmu, dan juga surat bersama . Sensei mengatakan kamu mungkin akan lebih senang jika teman sekelas yang memberikannya kepadamu, ”kataku.
"Aku senang, aku senang."
Aku menyerahkan sebuah amplop kepada Mamizu. Dia mengambil surat bersama berwarna dari amplop dan mulai memandanginya dengan penuh penasaran.
“Bukankah pesanmu sedikit dingin, Takuya-kun?” Dia bertanya
Aku buru-buru mengintip surat bersama. Pesan yang saya tulis ada di sudut kertas berwarna.
<Saya harap penyakit mu membaik>.Okada Takuya.
"Benarkah? Tidak…"
Aku tidak berpikir kalau itu benar-benar pesan yang mengerikan. Tapi itu memang terlalu singkat, dan mungkin ketidakjelasan karena ditulis dalam tiga detik . Dan ini mungkin berarti Mamizu tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari hal itu.
"Mungkin begitu. Maaf. " Aku berhenti mencoba untuk berasalan dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Mamizu menatapku dengan ekspresi sedikit terkejut. "aku tidak benar-benar berpikir kalau ini sangat dingin sampai kamu perlu meminta maaf," katanya.
Dia memiliki cara bicara yang aneh,pikirku.
“Takuya-kun, mungkinkah kamu sebenarnya tidak mau datang?” Dia bertanya.
"Mungkin guru memaksamu?"
Aku merasa seperti tidak peka untuk jujur dan berkata, “Sebenarnya, Kayamalah yang seharusnya datang.” aku ingat kalimat itu, “Keadaan mungkin membenarkan sebuah kebohongan.”
"Tidak," kataku. "aku datang kemari atas kemauan sendiri."
"Beneran? Itu bagus, "kata Mamizu, terlihat sangat lega.
Dia tampak pintar, tapi dia tipe orang yang mengekspresikan emosinya dengan cara yang mudah dimengerti, pikirku.
"Apa ini?" Aku bertanya, ingin mengubah topik.
Bola kaca yang tampak seperti kristal yang diletakkan di meja samping tempat tidur. Melihat dengan saksama, aku bisa melihat ada sebuah rumah mini di dalamnya. rumah kayu bergaya barat.Cahaya yang memancar melalui jendela membuatnya terlihat seperti ada seseorang yang tinggal di dalamnya.
“Ah, ini namanya 'Snow globe'. aku sangat suka itu. berikan sini, "kata Mamizu, melepas kertas surat berwarna dan mengulurkan telapak tangannya ke arahku, jadi aku memberikannya padanya. "lihat. Ada saljunya di sini. ”
Aku melihat dan melihat bahwa permukaan tanah di sekitar rumah di dalam bola kaca tertutupi semacam confetti* yang mirip salju.
"Aku melihatnya," kataku.
"Bukan itu saja. Jika aku mengguncangnya seperti ini ... "Mamizu mengocok snow globe nya.Saat dia melakukannya, confetti di dalam gelas tiba-tiba mulai menari.
Dengan beberapa trik, confetti bertebaran dan jatuh perlahan."Apa pendapat mu? Seperti salju, bukan? "
Memang, itu seperti salju.
"Dulu Ayahku yang membelinya untuku ... Aku belum bisa bertemu dengan nya lagi. Itulah mengapa aku menyimpan ini, ”kata Mamizu.
Jadi, orang tuanya sudah bercerai? yang aku pikirkan, tetapi aku tidak bisa bertanya padanya.
"Aku melihatnya dan membayangkan," lanjut Mamizu. “aku membayangkan bahwa aku tinggal di negara bersalju, dan ketika sudah musim dingin, salju turun.Napasku akan selalu putih. aku menghabiskan waktuku membaca buku sambil tetap menghangatan diri di dekat perapian. aku menikmatinya saat membayangkan itu. "
Salju terus jatuh di dalam bola kaca snow globe.
Mamizu terus berbicara. Mungkinkah dia lapar akan seseorang untuk diajak bicara? Cara dia berbicara membuat pikiran ini terlintas olehku.Tapi aku tidak benar-benar membenci itu.Percakapannya tidak begitu membosankan, dan aku tidak memberi caranya berbicara.
Percakapan itu akhirnya berhenti ketika sudah sore. aku memutuskan bahwa sudah waktunya pulang.
"Katakanlah, Takuya-kun,” kata Mamizu ketika aku pergi.
"Apakah kamu akan segera kesini lagi?"
Aku bingung. Tapi melihat ekspresinya yang tampak kesepian, aku tidak bisa mengatakan, "Tidak, aku tidak punya niat untuk kembali lagi."
"Secepatnya,."
Aku memberinya jawaban samar itu sebagai gantinya.
"Dan aku punya permintaan," kata Mamizu.
"apa itu?" Tanyaku.
"Aku ingin makan Almond Crush Pocky," katanya, tampak sedikit malu
"Pocky?"
"Sebenarnya aku hanya makan makanan rumah sakit . Dan ibu ku adalah orang yang ketat, jadi dia tidak akan membelinya untuk ku bahkan jika aku memintanya. Mereka tidak menjualnya di toko rumah sakit ini. aku tidak punya orang lain untuk di mintai tolong."Mamizu menatapku dengan mata agak terbalik.
"Apa aku terlalu banyak meminta?"
“Mmm, baiklah, baiklah,” jawabku tanpa memikirkannya terlalu dalam, dan kemudian aku meninggalkan ruangan.
“Bagaimana denganya? Watarase Mamizu. "
Sepulang sekolah keesokan harinya, Kayama dan aku sedang makan es krim di depan tokonya dalam perjalanan pulang saat dia tiba-tiba bertanya padaku pertanyaan ini.Dia yang membayar es krimku, seolah-olah sebagai imbalan atas apa yang telah aku lakukan. Aku dengan linglung mengingat peristiwa hari sebelumnya saat aku memindahkan es krim ke mulutku.
“Yah, dia benar-benar cantik,” jawabku, berpikir bahwa ini bukanlah yang ingin Kayama dengar.
"Bagaimana penyakitnya?" Tanya Kayama.
"Siapa yang tahu?" Kataku, bahkan ketika aku mempertanyakan apakah itu tidak apa apa mengatakan sesuatu seperti ini.
"Kayama, apakah kamu mengenalnya?"
"Di masa lalu, sedikit," kata Kayama ambigu.
"Kalau dipikir lagi, apa orangtuanya bercerai?" Aku bertanya, karena sedikit penasaran tentang hal itu.
"Yeah, mungkin," kata Kayama. "Nama keluarganya adalah Fukami sebelumnya."
Kami tidak bisa makan es krim selamanya, jadi setelah itu, kami pindah ke stasiun dan naik kereta.
Hanya ada satu kursi kosong, jadi aku yang duduk. Kayama menggantung di pegangan dan dengan lesu menatap ke luar jendela.
"Aku punya permintaan satu lagi ," katanya.
Di luar jendela, hijaunya pepohonan dan daerah pemukiman mengalir terlewati.
"Bisa kamu menemuinya sekali lagi?"
"Hah?"
"Tanyakan padanya kapan penyakitnya akan membaik."
Apa yang orang ini katakan? Aku bertanya-tanya. aku sudah bingung ketika dia memintaku untuk kembali ke kamar rumah sakit itu, tetapi sekarang aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
"Tanyakan padanya," kataku, sedikit muak.
Selama percakapan ini, kereta tiba di halte Kayama.
"Dan jangan sebutkan namaku ke Watarase Mamizu." Dengan kata-kata terakhir itu, Kayama turun dari kereta dan pergi tanpa kembali.
"Oi, tunggu. Apa sebenarnya ini? ”aku berteriak di belakangnya.
Pada saat berikutnya, pintu-pintu ditutup dengan desisan menyerupai karbon dioksida yang dilepaskan dari sebuah minuman bersoda dan kereta mulai bergerak.
... Seperti biasa, aku tidak bisa benar-benar tahu apa yang dia pikirkan
++++++++++++
Ketika aku pergi ke kamar rumah sakit, Watarase Mamizu tidak ada di ruangan nya.Tempat tidurnya kosong.
"Watarase Mamizu sudah pergi untuk pemeriksaan," kata seseorang.
Aku buru-buru berbalik ke arah suara itu datang untuk melihat seorang wanita tua yang tampak baik yang tinggal di ruangan rumah sakit yang sama berbicara padaku.
Dia tidak tahu kapan Mamizu akan kembali, tapi karena aku datang jauh-jauh ke sini, aku memutuskan untuk menunggu sebentar.
Snow globe ada di meja samping tempat tidur.
Aku mengambilnya dan mengguncangnya, meniru cara yang telah dilakukan Mamizu kemarin.
Salju berjatuhan di dalam Snow globe. Merasa ada semacam rahasia tersembunyi di dalamnya, aku menatapnya untuk beberapa waktu. Tentu saja, tidak peduli berapa lama aku melihatnya, tidak ada yang berubah.
Aku mencoba terus menggoyangkan Snow globe seperti orang gila. Ada badai salju di dalamnya. Terbawa suasana, aku mengguncangnya dengan keras, beberapa kali.
Di saat berikutnya, tanganku tergelincir.
Snow globe meluncur keluar dari tanganku dan jatuh , jatuh secara vertikal dan menghantam lantai kamar rumah sakit.
Hancur!
Suara yang keras bergema.
Sekarang aku harus pergi dan selesai, pikirku putus asa.
“Oh, itu kamu, Takuya-kun.”
Suara Mamizu terdengar dari belakangku, dan aku berbalik karena terkejut.
Ini timing yang salah
"Ah."
Sedikit terlambat, dia melihat pecahan kaca di kakiku. puing puing Snow globe, hancur berkeping-keping dan tersebar di lantai. Aku bisa dengan jelas melihat ekspresi suramnya
"Apa kamu baik baik saja? Takuya-kun, apakah kamu terluka? ”Tanyanya sambil bergegas, terlihat kesal.
"Aku baik-baik saja, tapi ... Aku benar-benar minta maaf," kataku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Mamizu mengulurkan tangan ke arah pecahan kaca.
"Aduh!" Dia tersentak.
Sepertinya serpihan itu memotong jarinya.Beberapa saat kemudian, cairan merah menembus kulitnya dan mengalir keluar.
"Tenang," kataku buru-buru. "aku akan pergi dan membawakanmu plaster sekarang. Aku akan membersihkan ini, jadi tetap di tempat tidurmu. ”
Mamizu merangkak tanpa kata ke tempat tidurnya dan duduk dengan punggungnya bersandar di dinding.
Aku membawa plester dari ruang perawat dan menyerahkannya kepada Mamizu. Dan kemudian aku dengan-diam mengumpulkan pecahan kaca.
Setelah membersihkan sebagian besar kekacauan, aku pergi untuk melempar pecahan gelas ke tempat sampah di luar kamar rumah sakit.
Ketika aku kembali, Mamizu menatap tanpa ekspresi pada isi Snow globe. Dia sedang memegang nya, yang hanya tinggal dasarnya saja dan rumah kayu mini yang tersisa, di mana salju tidak lagi jatuh.
"Ini tidak akan membantu. Segala sesuatu yang memiliki bentuk akhirnya rusak.. rasanya seperti tidak ada makhluk seperti itu yang tidak mati. "Dia meletakkan benda itu di tangannya ke meja disamping tempat tidur. "Mungkin lebih baik kalau itu rusak," katanya.
Suaranya entah bagaimana terdengar seperti dia menekan emosinya.
"Mengapa kamu mengatakan itu?" Aku bertanya, meskipun aku orang yang telah memecahkan bola salju.
"Karena aku merasa seperti ,akan lega rasanya jika mati tanpa memiliki sesuatu yang penting bagiku," katanya. Itu jawaban aneh yang dia berikan padaku. “bicaralah, Takuya-kun, berapa lama lagi aku harus hidup?”
Bahkan jika dia menanyakan itu padaku, aku tidak punya cara untuk mengetahui. Jujur saja, aku belum pernah mendengar ada kasus orang dengan penyakit luminesensi yang berumur panjang. Tapi setidaknya dari penampilan, dia tidak tampak seperti orang dengan penyakit yang tak tersembuhkan.
"Aku tidak tahu," jawabku, sambil terus memikirkannya.
"Harapan hidupku yang tersisa adalah nol," kata Mamizu. Suaranya benar-benar natural. "Aku seperti hantu. Sekitar tahun lalu, aku diberi tahu bahwa aku memiliki sisa waktu satu tahun, dan satu tahun berlalu seperti biasa ... sebenarnya aku seharusnya sudah meninggal.Meski begitu, aku cukup sehat. Aku ingin tahu apa maksud nya itu? ”
Cara dia berbicara seolah-olah dia berbicara tentang orang lain.
Mengapa dia mengatakan ini padaku, seseorang yang baru saja dia temui?Aku bertanya-tanya.
Pada saat itu, aku merasa gelisah di suatu tempat di dadaku
Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku merasa sangat kecewa. Emosi apa ini? Aku bertanya-tanya. Bahkan setelah memikirkannya, aku tidak mengerti apa itu.
+++++++++
*TLN: butsudan adalah altar kecil rumah tangga Buddha.
Dia masih remaja.
Kebanyakan orang merasa putus asa saat mereka akan mati. Mereka menjadi pesimis. Mereka merasa sedih tak berdaya. Dan kemudian mereka menerima nasib mereka dan tersiksa oleh perasaan tidak berdaya.Mereka menjadi hampir pikun. aku merasa itu seperti ketika kakekku melewati usia delapan puluh tahun dan meninggal.
Tapi cara Mamizu berbicara terdengar bagiku seolah-olah dia ingin mati.
Kenapa begitu yak? Aku bertanya-tanya.
Dan kemudian, karena aku merasa seperti itu, akupun menyalakan dupa dan membunyikan benda seperti mangkuk yang terbuat dari logam yang namanya aku tidak tahu.
Di depan butsudan, ada foto kakak perempuanku, tersenyum dengan seragam pelaut.
Okada Meiko. Lima belas tahun pada saat kematiannya.
Kakak perempuanku yang ditabrak mobil dan meninggal ketika aku 1 SMP.
Setelah saat memikirkannya, aku sudah menjadi mahasiswa baru di sekolah menengah atas, sama seperti Meiko, bahkan tanpa menyadarinya.
Seperti apa ketika Meiko meninggal?
, apa yang dia pikirkan, pada saat saat terakhir?
Aku tiba-tiba memikirkan hal-hal ini.
Hei, Meiko.
Aku bertemu dengan seseorang bernama Watarase Mamizu. Dia terlihat lemah, tapi sepertinya dia sama sekali tidak takut mati.
Tapi kau tahu. tetap saja.
Seperti apa rasanya bagimu, Meiko? Aku bertanya dalam diam, tapi tidak ada tanggapan dari kakak perempuanku di foto itu. Itu memang sudah aku duga.
Sudah waktuny tidur, dan meskipun aku merangkak ke tempat tidur di kamarku, aku tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Entah kenapa, wajah Watarase Mamizu muncul dalam pikiranku dan tidak pernah hilang.
"Aku ingin tahu kapan aku akan mati?"
Suaranya masih ada di dalam otakku.Seperti sebuah baris dalam sebuah lagu yang aku sukai atau salah satu lagu komersil aneh yang tersangkut di kepalaku, suaranya berulang tanpa henti.
Keesokan harinya, ketika tiba di sekolah dan membuka tas ku, sekotak Almond Crush Pocky muncul dari situ.
Apa yang harus aku lakukan dengan ini? pikirku.
Karena kejadian itu , aku kehilangan kesempatan untuk memberikannya pada Mamizu.
Setelah berpikir dan mengkhawatirkan hal ini, aku memutuskan untuk pergi ke kasana sekali lagi dalam perjalanan sepulang dari sekolah, hanya dengan tujuan memberikan ini padanya.
Aku bahkan mempertimbangkan bagaimana aku bisa sampai di sana.
Saya memikirkan bagaimana jika mengunjungi rumah sakit setiap hari berturut-turut mungkin menimbulkan masalah , dan bagaimana jika Mamizu mungkin tidak ingin melihat wajahku lagi setelah aku memecahkan sesuatu yang sangat berharga baginya.
Sekarang aku memikirkannya, itu aneh. Akan lebih baik jika dia marah dengan padaku waktu itu. aku akan merasa lebih baik jika dia membentak dan meluapkan amarahnya padaku. aku merasakan sakit yang tidak mengenakkan di perut ku.
Kenapa aku mencoba untuk terlibat dengannya, sampai harus mengalami perasaan-perasaan ini?
aku bahkan merasa aneh. Aku bertanya-tanya kenapa aku melakukan ini, pikirku.
Itu mungkin ... Aku yakin itu karena dia mirip dengan kakakku, Meiko.
wajah mereka tidak benar-benar mirip. Kepribadian mereka juga sangat berbeda. Tapi meski aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, ada sesuatu yang mirip antara mereka.Cara terdekat untuk menggambarkannya adalah atmosfer di sekitar mereka mirip. Saat itu, Meiko mirip dengan Watarase Mamizu.
Ada sesuatu yang tidak pernah aku mengerti tentang kematian saudara perempuanku
Aku punya perasaan bahwa mungkin aku bisa memahaminya jika aku menghabiskan waktu dengan Mamizu.
Aku berhenti di depan sebuah ruangan dan menarik napas dalam-dalam. aku mnghirup dalam-dalam dan menghembuskannya dengan saksama.
Dan kemudian akhirnya mengeraskan tekad ku dan masuk.
Sama seperti saat pertama kali aku datang ke sini, Watarase Mamizu berada di tempat tidur paling jauh di dalam kamar bersama ini. aku melihatnya sedang menatap notebook dan menulis sesuatu. Itu notebook B5 merek terbaru. terbuka di atas meja rumah sakit yang memiliki rol panjang dan tipis yang melekat padanya, dan menulis sesuatu . Dengan pandangan menyamping dari wajah seriusnya, sulit untuk memanggilnya. Aku sejenak ragu .
Dan kemudian, seolah mendeteksi kehadiranku, dia menyadari bahwa aku ada di sana dan mendongak.
"Jika kamu di sini, seharusnya katakan sesuatu," katanya. Dia menatapku dengan ekspresi curiga.
"Apa yang kamu tulis?" Aku bertanya.
Dia tampak normal. Perasaan yang aku rasakan kemarin ketika kami berpisah, perasaan bahwa dia akan hancur
jika dia disentuh, hilang.,
Bukan, mungkin karena itu, aku merasakan semacam jarak di antara kami.
"Itu rahasia." Dia mengangkat buku catatan itu sehingga sampulnya menghadapku, seolah untuk menyembunyikan isinya.
"Baiklah," kataku.
Yah, itu mungkin buku harian atau sesuatu. Aku tidak akan mengejar topik itu , dan dengan lembut meletakkan Pocky yang kubawa ke meja.
"Wow, ini Almond Crush!" Mamizu mengangkat Pocky dengan mata yang berkilau.
"Boleh aku memakan?" Dia bertanya padaku. Saat aku mengangguk, dia membuka kemasannya dengan rapi dan menggigit salah satu stik Pocky dengan sebuah kegentingan kecil. "Ini sangat berbeda dari yang biasanya," katanya.
Aku ingin tahu apa dia sangan sukai itu sampai dia tersenyum riang.
"Aku akan memberitahumu sedikit," katanya.
Untuk sesaat, aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tetapi aku segera menyadari bahwa yang dimaksud adalah notebook.
"Aku membuat daftar hal-hal yang ingin aku lakukan sebelum meninggal."
Itu ... sesuatu yang pernah aku dengar sebelumnya. Sebelum kau mati, kau akan melihat kilas balik kehidupan mu dan pada akhirnya, kau ingin menyelesaikan hal-hal yang telah kau tinggalkan dan memenuhi hasrat mu. Itu cerita yang umum, pikirku. Hal-hal seperti reuni yang emosional, atau ingin bertemu orang terkenal.
"Selama tes kemarin, aku tanya kedokter, kau tahu. 'Berapa lama lagi aku harus hidup?' Dan kemudian dia membuat ekspresi yang rumit dan mengatakan sesuatu seperti, 'Saya tidak benar-benar tahu, tetapi tampaknya Anda akan bertahan setengah tahun lagi.' Dokter yang tidak berguna, bukan? aku ingin tahu apa yang dia pikirkan tentang hidup seorang manusia? Ngomong-ngomong, kupikir aku sebaiknya menggunakan waktu berharga yang aku miliki dengan cara yang paling seberharga mungkin. ”Mamizu mengatakan semua ini sekaligus, dan kemudian, di saat berikutnya, dia sedikit mengerutkan kening.
"Tapi kau tahu, aku pikir itu tidak mungkin."
"Kenapa?" Aku bertanya.
"Aku tidak bisa pergi keluar rumah sakit. Kondisi ku sangat buruk, . aku sudah diberitahu dengan tegas bahwa aku dilarang pergi keluar ”
Pada saat itu, sebuah ide tiba-tiba terpikir olehku.
Itu sama sekali bukan pemikiran yang mengagumkan.
Aku hanya ingin tahu.
Apa yang tertulis di buku catatan itu?
Untuk beberapa alasan, aku benar-benar penasaran.
Apa yang ingin dilakukan Watarase Mamizu sebelum dia meninggal?
"Boleh aku membantu mu dengan itu?" Tiba-tiba aku berkata .
Mamizu kembali menatapku, terkejut. "Mengapa?"
"Aku ingin menebus kesalahanku .Untuk memecahkan Snow globemu. aku tahu itu bukan sesuatu yang bisa dibatalkan. Tapi aku merasa seperti kata 'maaf' saja tidak cukup. Aku merasa itu terlalu tipis.aku tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan benar, tapi ... apa pun itu, aku akan melakukan apapun jika itu adalah sesuatu yang bisa aku lakukan. "
"Aku ragu, apa itu beneran." Setelah diam sejenak, Mamizu membuka mulutnya lagi.
"Apa kamu benar-benar mau melakukannya?"
Nada suaranya sudah naik setengah . Dia berbicara seolah-olah dia sedang mengujiku.
"Pastinya. aku berjanji, ”kataku penuh semangat.
"Ah," katanya. Dia menatapku, matanya tiba-tiba terbuka lebar."Sesuatu yang baik baru saja terlintas dalam pikiranku."
Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di otaknya saat ekspresinya berubah dengan cepat. Ekspresinya yang sukar telah berubah sepenuhnya, dan sekarang seperti langit yang berawan baru saja dibersihkan.
"Katakan, apakah kamu mau dengar?" Katanya.
Pada saat itu, aku merasakan sesuatu seperti firasat aneh.
Jika aku mendengarkannya berbicara lebih jauh, aku tidak akan bisa kembali, kan? pikirku.
... Meski begitu, seolah-olah tertarik oleh tatapannya, aku memberinya respon yang sederhana.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Dengan urutan kejadian ini, hubungan aneh antara aku dan Watarase Mamizu dimulai.
“Aku berpikir untuk menyuruhmu melakukan ini, Takuya-kun,” kata Mamizu, tertawa sedikit malu. Ada sesuatu yang kekanak-kanakan tentang senyumnya.
"... Hah?"
Aku tidak bisa menerima apa yang dia katakan.
“aku ingin kamu menggantikan ku melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan sebelum aku mati . Dan kemudian aku ingin kamu datang ke sini dan memberi tahuku kesanmu tentang pengalaman-pengalaman itu. ”
"Itu gila ..." kataku, heran. Ada seratus tanda tanya mengambang di dalam kepalaku.
Apa gunanya itu? Jika itu aku, aku hanya akan merasa kesal jika orang lain melakukan hal-hal yang ingin kulakukan tepat di depan mataku, pikirku. Tapi sepertinya Mamizu tidak berpikir seperti ini.
“Lagi pula, itu tidak bisa dihindari, kan?Aku tidak bisa keluar meski aku ingin. Tidak ada jalan lain. Bukankah kamu pikir itu ide yang bagus? ”Kata Mamizu, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Dia mungkin ingin melakukan hal-hal ini sendiri. Dia akan mempertimbangkan itu dulu. Tetapi fakta bahwa ada beberapa keadaan yang mencegahnya melakukan hal itu ,dengan cara, sesuatu yang dapat aku pahami.
“... Yah, aku mengerti apa yang ingin kamu katakan. aku hanya harus melakukan apa yang ingin kamu lakukan, bukan? Jadi, ceritakan padaku apa yang ingin kau lakukan, ”kataku seakan merenungkan idenya, masih bingung.
"Itu tepatnya." Tampak bahagia karena suatu alasan, Mamizu tersenyum.
“Tidak baik memulai dengan yang berat. aku kira kita akan melakukan nya dengan yang ringan terlebih dahulu. Aku bertanya-tanya mana yang harus aku pilih? ”Katanya, membuka buku catatannya dan menatapnya dengan tatapan serius.
Dan kemudian dia tiba-tiba tersenyum.
"Baiklah, aku sudah punya permintaan ..."
Sejujurnya, aku hanya punya firasat buruk tentang ini
"Aku selalu pengen pergi ke taman hiburan sebelum aku mati."
Menurut Mamizu, dia hanya pernah ke taman hiburan ketika dia masih sangat muda, bersama orang tuanya. Dia tertarik dengan taman hiburan seperti sekarang karena dia lebih sadar tentang dunia di sekelilingnya.
Karena itu adalah sesuatu yang ingin dia lakukan sebelum dia meninggal, aku mengharapkan sesuatu yang lebih spektakuler. aku sudah siap untuk sesuatu seperti salah satu mimpinya untuk masa depan yang belum pernah terpenuhi. Tapi keinginannya seperti anak kecil, seperti seseorang di kelas menengah kebawah. Jadi saya sedikit kecewa pada awalnya.
"Hah? ... Itu artinya ... ”Berpikir tentang hal itu dan mengingat fakta bahwa orang yang melakukan ini adalah aku, aku merasa bingung.
"Jadi Takuya-kun yang akan pergi ke taman hiburan mengganti kan ku."
“Tidak, tunggu sebentar! … Kamu bercanda kan?"
"Aku serius, kau tahu?" Kata Mamizu tanpa tanda-tanda rasa malu, dan kemudian tertawa nakal.
Seminggu kemudian, untuk beberapa alasan, aku datang ke taman hiburan yang terkenal di luar prefektur.
Tentu saja, sendirian.
Betapa sedihnya seorang pria seusiaku harus datang ke taman hiburan sendirian?
Taman hiburan adalah tempat yang dikunjungi oleh keluarga dan kekasih.Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Tidak ada yang mau datang ke sini sendirian.
Dan ini adalah Golden week *.
Ada lebih banyak orang, orang, dan orang-orang, sejauh mata memandang.Tentu saja, mereka berkelompok, seperti pasangan, keluarga, dan teman. Tentu saja, aku tidak bisa menemukan siapa pun yang datang sendirian seperti diriku.
*golden week adalah periode di akhir bulan April hingga minggu pertama bulan Mei di Jepang yang memiliki serangkaian hari libur resmi. Normalnya antara 29 April sampe 5 mei
Faktanya, aku terlalu mencolok. Itu sudah bisa diduga. Tidak berlebihan jika mengatakan aku terlalu menarik perhatian banyak orang daripada para pemain .Orang-orang yang lewat di dekat ku bisa melihat ekspresi gelap di wajahku sebelum akhirnya pergi.Ada sesekali orang yang dengan terang-terangan mencibir ku, dan orang-orang nakal menunjuk dan tertawa. aku benar-benar menjadi pusat perhatian.
Gua bukan orang gila!
Aku ingin meneriakkannya dengan megafon. Di mana tepat di sini, aku bisa membeli megafon?apa aku bisa tau kalau bertanya pada seseorang?
Maaf, aku ingin megafon, di mana aku bisa membelinya?
Tunggu! aku bukan orang yang mencurigakan. aku tidak gila! Mohon tunggu!
Namun, aku punya rencana. aku datang ke sini bukan untuk bermain. Yah, aku punya, tapi ini bukan hanya bermain untukku.
Tujuan pertamaku adalah rollercoaster.
Dalam suasana suram, aku membeli tiket dan berbaris untuk roller coaster.sudah satu jam menunggu . Ah, aku ingin pulang.
Aku sudah benar-benar muak dengan ini.
Kebetulan, aku benci naik wahana.aku pernah satu kali waktu kecil, dan tidak pernah lagi sejak itu. Aku tidak mengerti tujuan mereka.Apa menyenangkannya tentang mengendarai mesin yang terbuka saat meluncur di tempat tinggi dengan kecepatan yang gila? Aku tidak mengerti sama sekali.Bukan karena aku takut naik , pasti bukan, tapi ... dalam hal apapun, aku tidak ingin menaikinya jika aku punya pilihan.
***
Itu adalah perjalanan terburuk yang pernah dibuat dalam sejarah kemanusiaan, pikirku.
Setelah turun dari roller coaster, aku berjalan perlahan, merasakan rasa lelah yang ngga bisa di gambarkan. Perutku mual. Aku merasa ingin membuang roti panggang yang kumakan tadi pagi. Aku merasa sakit.Semangat ku berada di titik terendah sepanjang waktu.
Meski begitu, urusanku di sini belum selesai.
Aku melanjutkan, menuju toko yang telah ditentukan Mamizu. Itu adalah sebuah kafe di dalam taman hiburan yang kebanyakan menjual manisan.Setelah mengantri sekitar tiga puluh menit, aku bisa masuk .Tampaknya dengan semua yang ada di sini, waktu yang kau habiskan mengantri lebih lama dari waktu yang kau habiskan untuk menikmati hal yang kau antri. 95 persen mereka yang berbaris adalah para pasangan. Itu adalah suasana manis yang dimiliki toko ini.
Ada banyak karyawan berjalan di sekitar toko, mengenakan pakaian terbuka yang dirancang untuk menekankan pada dada mereka. Seragam ini dikatakan salah satu dari dua spesialisasi dari toko ini, dan penggemar tampaknya tidak bisa mendapatkan cukup dari mereka.Salah satu karyawan membawa menu ke arahku, tetapi tanpa melihatnya, aku sudah memutuskan pesananku seolah meludahkan kata-kata.
"Tolong beri aku parfait 'Our First Love'!"
Bagian dalam toko menjadi bising.Mereka begitu berisik sehingga aku ingin bertanya kepada mereka apa yang membuat mereka begitu bahagia. Seorang pria sendirian, di toko penuh pasangan, memesan parfait First Love. Parfait ini adalah spesialisasi lain dari toko ini.
"Ada apa dengan orang itu?"
"Dia berbahaya."
"Dia benar-benar berbahaya."
Aku bisa mengatakan bahwa semua orang berbisik tentang diriku. aku melihat ke langit-langit dan memejamkan mata. aku mematikan kesadaranku sebanyak yang aku bisa.
Permainan hukuman macam apa ini?
Aku ingin menghilang, aku ingin menghilang, aku ingin menghilang.
Ketika mengulangi kalimat ini berulang-ulang untuk diri sendiri di kepalaku. Parfait First Love telah tiba.
Sejumlah besar saus stroberi telah dituangkan ke parfait raksasa. Ada banyak wafer yang dimasukkan ke dalamnya seolah-olah membuatnya lebih hidup, dan sepotong cokelat berbentuk hati diabadikan di tengahnya. Sepertinya cukup untuk dua atau tiga orang.
+++++++++
Aku mendengar bunyi klik dari kamera ponsel.
Aku berbalik dengan terkejut bertanya-tanya apa itu dan melihat seorang pasangan di kursi belakangku, mengambil fotoku. Aku menatap mereka diam-diam, tetapi itu tidak terlalu mengancam.
Iomong kosong. Ini benar-benar omong kosong.
Bahkan ketika aku memikirkan ini, aku juga mengambil foto parfait .Kebetulan, harga parfait 1.500 yen.Benar-benar payah, pikirku. Pada akhirnya, aku memakannya sendiri, karena aku pikir itu akan sia-sia jika aku tidak melakukannya. Saat memakan nya, tawa cekikikan di sekitar ku tidak pernah berhenti.
“Takuya-kun, kamu yang terbaik! Perutku sakit!"
Watarase Mamizu tertawa terbahak-bahak setelah melihat foto parfait First Love dan mendengar tentang cerita ku di taman hiburan. Dia tertawa begitu keras sehingga aku bertanya-tanya apakah itu tidak menggangu orang lain di ruang ini
“Lalu, lalu? Apa yang kamu lakukan setelahnya? "Tanyanya.
"Aku pergi ke rumah hantu dan mendapat kejutan oleh para hantu, terkejut oleh anak-anak di komedi putar, kemudian merinding melihat para pasangan di bianglala, dan kemudian aku kembali," kataku padanya, merasa muak.
“Bagaimana perasaanmu? Apa itu menyenangkan? ”
“Itu adalah perasaan terburuk yang mutlak. aku pikir akan lebih baik jika rudal nuklir jatuh di taman hiburan itu. ”
Menemukan sesuatu tentang hal ini, Mamizu tertawa terbahak-bahak sekali lagi. Jadi, dia adalah seseorang yang tertawa dengan jujur seperti ini, pikirku, sedikit terkejut.
"Aku mengerti, aku mengerti, terima kasih," katanya. “Aku rasa taman hiburan bukanlah tempat yang seharusnya kamu datangi sendiri.”
"Lihat di sini…"
Aku pengen bilang , "lu tahu itu dengan baik tanpa harus pergi ke sana, kan?" Tapi sebelum aku bisa, Mamizu mulai berbicara lagi.
"Kalau begitu, tentang permintaanku selanjutnya," katanya, menyalakan TV di kamar. Setiap tempat tidur di kamar bersama ini memiliki TV, tetapi aku belum pernah melihat Mamizu menontonya sampai sekarang.
Setelah membolak-balik saluran untuk sementara waktu, ia menemukan program berita malam.
"Yang ini, yang ini!" Mamizu menunjuk ke layar TV, seolah-olah bersemangat tentang sesuatu.
"Aku ingin mencoba menunggu di antrean itu sepanjang malam," kata Mamizu.
... Aku memutuskan untuk mengabaikannya dan pulang.
"Tunggu! Tunggu, Takuya-kun. ”
"Aku benar-benar tidak mau melakukan itu!"
"Lihat ini." Mamizu membuka laci di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan ponsel.
Itu tampak sangat tua; itu adalah ponsel flip warna putih yang telah memudar menjadi gading. “aku masih menggunakan ponsel flip. aku udah menggunakan ini selama empat tahun, sejak sebelum aku dirawat di rumah sakit. Apakah kamu tidak merasa kasihan padaku? ”
benar, belakangan ini orang-orang yang menggunakan telepon retro, era-sebelumnya memang langka.
"Aku ingin mencoba menggunakan smartphone sebelum aku mati," katanya dengan sedih.
"... Tapi itu cukup mahal, kau tahu," kataku.
"Kamu punya uang nya?"
"Ta-dah." Mamizu mengeluarkan buku tabungan dari laci lain.
"Apa itu?" Aku bertanya
"Penghematan hadiah Tahun Baru."
Jadi benar-benar ada orang yang menyimpan uang itu, pikirku.
“Keluargaku ,seperti kakek dan nenek ku memberiku setiap tahun, tetapi di tempat seperti ini, aku memiliki lebih sedikit hal untuk dibelanjakan daripada seseorang di penjara. Jadi, aku menyimpannya. ”
Aku melihat buku tabungan Mamizu menyerahkan padaku untuk menunjukkan bahwa memang ada cukup banyak yang terdaftar di dalamnya.
“Gunakan itu. aku akan memberi tahumu PIN nya ”katanya, sambil memberi ku kartu tunai juga.
*Kartu tunai semacam kartu kredit
"Tunggu sebentar," kataku, akhirnya merasa ini agak berat. "Kamu tidak boleh melakukan hal seperti memberi tahu orang lain hal semacam itu, kan?"
"Kenapa?" Tanya Mamizu, menatapku dengan bingung.
"bisa saja disalahgunakan."
"Apakah kamu akan menyalahgunakannya, Takuya-kun?"
"Lihat di sini…"
Aku tidak bisa menyebutkannya, tetapi aku merasa dia melakukan ini dengan sengaja.
"Kamu baik-baik saja, Takuya-kun."
Dengan pernyataan tak berdasar ini, Mamizu mendorong buku tabungan itu ke arahku.
+++((
Sudah Larut malam, ketika aku akan meninggalkan rumah, ibuku memanggil dan menghentikan diriku.“mau pergi kemana semalam ini?Apa mau bertemu seseorang? ”Ibuku menatapku dengan ekspresi curiga.
Itu terlalu mengganggu untuk dijelaskan. Saat itu hampir tengah malam. aku mencoba mengejar kereta terakhir.
"Aku , keluar untuk bermain sebentar," kataku.
"Itu yang dikatakan Meiko hari itu ketika dia pergi." Ibuku menatapku dengan tatapan serius yang tidak perlu. "Takuya, kamu tidak akan mati, kan?"
Ibuku mengatakan kata-kata gila ini padaku. Tapi ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal-hal semacam ini.
"Tidak mungkin aku mati," jawabku, bosan dengan ini.
“Kau tahu, Takuya. Jika kau mati dengan cara yang aneh juga, aku akan ... ”
Aku tidak tahan lagi saat itu.
"Meiko hanya mengalami kecelakaan mobil, kan?"
"Tapi…"
Ibuku mencoba mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak ingin mendengarnya lagi.
"Aku baik-baik saja," kataku.
Menemukan percakapan ini sedikit melelahkan, aku mengakhirinya di sana dan keluar.
Aku naik kereta dan menuju antrean untuk smartphone yang diminta Mamizu.
Aku cukup kedinginan menunggu di antrean sepanjang malam, meskipun sedang musim semi. Tampaknya ada banyak orang di dunia ini dengan banyak waktu luang ;antrean dengan banyak orang terbentuk di jalanan distrik bisnis. Sendirian, aku menggigil ketika menunggu pagi datang. sejak tadi , aku memikirkan kembali cara ibuku bertindak sejak Meiko meninggal.
Sejak Meiko meninggal, untuk beberapa alasan, ibu selalu memiliki kekhawatiran yang aneh jika aku akan mati juga.
"Ada topan, jadi jangan pergi ke sekolah hari ini.
Ketika aku menanyakan alasannya, dia dengan sungguh-sungguh memberikan jawaban seperti,
"Bagaimana jika kamu tertiup angin, kepalamu terbentur sesuatu dan mati?" Atau,
"Bagaimana jika mobil tergelincir karena hujan dan melaju ke arah mu?"
Serius, tolong selamatkan aku. Pikirku
"Bagaimana jika kamu makan sashimi selama musim panas dan mati karena keracunan makanan?"
"Bagaimana kalau kamu tertidur di kamar mandi dan tenggelam?"
"Jika kamu memakai pakaian hitam, kamu akan terbunuh oleh sengatan lebah, kan?"
seperti itulah, ibu ku sangat bersemangat tentang mempersepsikan pertanda kematian dalam hal-hal sepele di keseharian.
Ada suatu masa ketika ibuku sering mengunjungi seorang spiritualis yang cerdik. Dia membuatku ikut dengannya. Alasannya adalah sekitar setengah tahun sebelum Meiko meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, pacarnya pada saat itu meninggal dalam kecelakaan lalu lintas dengan cara yang sama. Ibu ku telah memikirkan nya dengan serius bahwa dia telah dirasuki oleh roh jahatnya.Singkatnya, ibuku menjadi sedikit gila.Meskipun tidak mengalami keguguran, ia diberitahu bahwa ia dirasuki oleh roh janin yang keguguran, dan percaya itu untuk sementara .
Pikiran ibuku sedikit sakit.
Maka, di masa lalu, aku bahkan pernah dipaksa untuk menghadiri bimbingan konseling.Setelah Meiko meninggal, akupun cukup tertekan. Tampaknya ini telah membuat ibuku khawatir. Bagaimana jika aku menjadi sakit jiwa dan mati sebagai hasilnya?
Pernahkah kau berpikir bahwa kau ingin mati?
Apakah kau tidur nyenyak?
Apakah kau memiliki selera makan?
Apakah ada sesuatu yang mengganggu mu saat ini?
Aku menjawab semuanya dengan “Saya baik-baik saja.” aku memastikan untuk secara sadar bertindak ceria selama waktu seperti itu.
Saya baik-baik saja.
Saya normal.
Tidak ada masalah.
Dengan begitu, aku dibebaskan, tapi ... meski begitu, sepertinya ibuku masih meragukanku.
Bukankah bocah ini juga akan mati dalam waktu dekat?
Sepertinya pikiran ini selalu ada di benak ibuku.
Memang benar bahwa kepribadian ku menjadi agak lebih pendiam setelah kematian Meiko. aku ingat tidak banyak berbicara dengan keluarga ku setelah dia meninggal.
Tapi bukankah itu memang begitu seterusnya?Setidaknya, itulah yang aku pikirkan.
Jika aku mulai tertawa lagi setelah kematian kakak perempuanku, bukankah itu lebih menjadi pertanda bahwa aku memang sudah gila?
Aku harap ibuku akan pergi ke bimbingan konseling.
+++
“Yay! aku akhirnya bagian dari peradaban juga. "
Sebelum menyerahka kepadanya, aku mencoba memberi tahu betapa melelahkannya menganti sepanjang malam, lebih dari kebencian terhadap apa pun. Tapi ketika aku masih di tengah kalimat, Mamizu mulai membuka bungkus smartphonenya.
"Oi ... Bukannya kau tertarik dengan mengantre sepanjang malam, kamu hanya menginginkan sebuah smartphone, bukan?"
"Itu tidak benar, kau tau?" Kata Mamizu tersenyum sambil memegang smartphone di depan matanya. "Wow," dia berbisik kagum, matanya bersinar.
“Dengan ini, akan lebih mudah untuk berhubungan denganmu, kan, Takuya-kun?” Dia berkata dengan gembira.
Aku benar-benar terkejut.
Setelah itu, Mamizu meminta ku untuk menunjukkan cara menggunakan fungsi dasar, dan aku mencatat nomor ku di sana.
Beberapa hari kemudian, kontrak telepon Mamizu yang diminta ibunya untuk mengaturnya selesai, dan smartphone-nya akhirnya terhubung ke internet. aku segera mengirim pesan.
> Terima kasih
Itu saja yang tertulis di dalamnya.
Mungkinkah dia terlalu malu untuk mengatakannya sendiri? Tanpa ragu-ragu, aku membalasnya sederhana, "Sama-sama."
+++
Pada akhirnya, aku tidak punya pilihan selain menjadi lawan Kayama sambil makan roti yang aku beli sebelumnya.
“Okada. Kapan pertama kali kau naksir? ”
Kayama bertanya tiba-tiba, di tengah-tengah permainan Othello kami.
“4 SD. Gadis kursi sebelahku, ”kataku.
“kalau aku kelas 6.. Jadi, apa yang terjadi selanjutnya? ”
Aku hanya bisa mengingat wajahnya.aku tidak tahu di mana dia atau apa yang dia lakukan.
"Yah, aku sudah berhenti peduli padanya," kataku.
Aku bahkan tidak mendekatinya dengan cara khusus atau mengaku padanya; hubungan kami dan cinta samar ku telah berakhir secara alami dengan kenaikan kelas. Tapi aku pikir itulah bagaimana pertama kalinya hancur bagi kebanyakan orang.
“Kau tahu, aku pikir hal-hal kecil tidak benar-benar berubah. Hal-hal seperti makanan favorit kita, cara kita makan makanan, berapa banyak tisu yang kita gunakan ketika kita meniup hidung kita,
”kata Kayama, menggunakan sumpit untuk mengambil hidangan sampingan di bento ke dalam mulutnya dengan ketangkasan yang mengagetkan
"Kamu menggunakan satu tisu, kan?"
"Aku dua."
Kayama mengambil kesempatan.Pion putihku semuanya terbalik.
"Tapi menurutku semakin penting perasaan itu, maka semakin mudah mereka terbalik, seperti pion Othello," kata Kayama.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan.
"Tapi kamu tahu, aku sebenarnya benci itu," lanjutnya.
Dia berbicara seperti ini dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, aku tidak tahu apa yang dia coba katakan.
"... Kalau dipikir-pikir , aku baru-baru pergi dan melihat Watarase Mamizu, seperti yang kau katakan padaku," kataku.
Saat aku mengatakan itu, tangannya yang memegang sumpit berhenti. Dan kemudian dia menatap wajahku.
"Apa ?" kataku.
"... Lalu?" Tanya Kayama.
“Yah, dia relatif sehat. Aku tidak tahu detailnya, tapi sepertinya dia tidak akan mati untuk sementara ini ”
Aku berpikir untuk menjelaskan berbagai hal, tetapi memutuskan untuk tidak melakukannya. Fakta bahwa aku pernah bertemu dengannya berkali-kali setelah itu, dan daftar hal-hal yang ingin dia lakukan sebelum dia meninggal. aku tidak tahu apakah itu baik-baik saja untuk menumpahkannya kepada orang lain.
Dan aku sedikit marah pada Kayama, yang terus mempertahankan niatnya untuk membuatku pergi dan menemui Mamizu sebagai sebuah rahasia. Aku juga tidak berpikir kalau aku punya kewajiban untuk memberitahunya.Dan faktor yang paling penting adalah bahwa menjelaskan semua hal yang aneh dan tidak bisa dimengerti ini akan merepotkan.
"Kayama, apakah ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?"
"Kalau begitu, tiga ukurannya."
"Tanyakan padanya sendiri."
Tampaknya kemenangan milik Kayama dalam permainan Othello.Meskipun menjadi orang yang memulainya, ia rupanya kehilangan minat setengah jalan melalui permainan dan berdiri sebelum berakhir.
"Tidakkah kamu harus pergi dan melihatnya?" Aku bertanya kepadanya ketika dia pergi untuk menjenguk.
"... Bukan sekarang," katanya setelah berpikir sejenak. "aku tidak kekurangan wanita sekarang, bagaimana pun." tambahnya.
"Apakah kau berencana untuk mengincarnya ?" Aku bertanya sambil tertawa. aku kira dia sedang bercanda.
Tapi Kayama menatapku diam untuk sesaat tanpa membuat pernyataan lagi, dan kemudian kembali ke tempat duduknya, pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi .
Tentang apa itu? aku bertanya-tanya, menemukan ini semakin aneh.


